Laman

Saturday, July 12, 2014

Lombok, Jakarta & Bangkok

2014, Tahun ke dua tinggal di Lombok dan tahun untuk pertama kali berkunjung ke Thailand :)


Pertama kali mendengar kata Thailand yg terlintas adalah Phuket dengan keindahan pantainya seperti Bali dan Lombok, tapi yg td terlintas benar-benar hanya terlintas saja karena destinasi nya adalah Bangkok dan Pattaya :)

Liburan ke Thailand kali ini cukup lama dan cukup panjang total 10 hari, bukan 10 hari di Thailand tapi butuh waktu 10 hari untuk perjalanan dari Lombok - Jakarta - Thailand - Jakarta dan kembali ke Lombok :))

Hari Pertama
Berangkat dari Terminal 3 Soekarno-Hatta sore hari sekitar jam 4 menggunakan Air Asia menuju Don Mueng International Airport, kira-kira perjalannya sktr 3 Jam 25 Menit untuk sampai di Bangkok.


Don Mueng jauh beda dengan SHIA, Airportnya lebih sepi, bersih dan tertib infonya airport ini merupakan airport lama seperti Halim Perdana Kusuma tapi dioperasikan kembali untuk penerbangan International dari bbrp maskapai.

Sampai di Thailand langsung cari tempat makan :)) menu yang pengen dicoba adalah teh tarik atau thai tea

Klo di Indonesia terbiasa dengan jeruk atau beberapa potongan buah diatas gelas, waktu di Thailand cukup aneh karena diganti dengan potongan bunga., mungkin klo di Indonesia potongan bunga ini biasanya dipakai untuk ziarah ke Makam :D

Setelah makan malam lanjut ke Hotel untuk menginap, Saya menginap di Metro Resort untuk lokasinya cukup strategis menurut saya karena berada didekat keduataan Indonesia dan dekat dengan tempat perbelanjaan Platinum.


Hari Kedua
Damnoensaduak Floating Market atau pasar apung, saat berkunjung kesini yang teringat adalah iklan RCTI Oke hahaa., di pasar ini menjual segala macam dari buah-buahan, oleh-oleh gantungan kunci, baju dan souvenir hingga segala macam makanan khas Thailand.



Dari Floating float lanjut untuk makan siang di The Royal Dragon yang masuk kedalam Guiness Book of Records untuk kategori restaurant dengan jumlah tempat duduk terbesar yang bisa mencapai lima ribu kursi.



Setelah makan siang lanjut ke kebun binatang Siracha Tiger Zoo, kebun binatang ini terkenal karena keanehannya yaitu ada harimau yang menyusui babi, atraksi yang keinget sampe sekarang adalah Pig Racing (Balapan Babi) hahaa...



Selesai nonton kejar-kejaran babi langsung pergi ke Pattaya kota yang terkenal karena pantai dan atraksi bancinya, kota yang menurut saya cukup vulgar terlihat dari design bangunan disekitar Pattaya.



Hari Ketiga
Tema hari ketiga adalah wisata religius yaitu Wat Arun dan Wat Pho. What Arun merupakan kuil yang terletak di pinggir sungai sedangkat Wat Pho merupakan kuil yang terdapat budha tidur terbesar dan terbuat dari emas. Letak Wat Arun dan Wat Pho berdekatan cukup jalan kaki dari tempat penyeberangan, untuk menyeberang ke Wat Arun hanya sebentar tidak sampai lima menit sudah sampai.









Setelah selesai dari wisata kuil perjalan selanjutnya wisata belanja :) yaitu MBK center dan Asiatique. MBK dikenal sebagai tempatnya berburu oleh-oleh khas Thailand mulai dari pakaian, tas, hingga aksesori lucu khas Thailand, sedangkan Asiatique merupakan tempat wisata sekaligus belanja, tempatnya lengkap ada restaurant, furniture, souvenir, baju, dll. Disini kita juga bisa menikmati sunset dari pinggir pantai, kalau di Bandung tempat ini mirip dengan Paris van Java.







Hari Keempat
Hari terakhir temanya masih sama yaitu wisata belanja, kali ini berkunjung ke Platinum dan pasar Chatuchak atau dikenal dengan JatuJak (JJ) pasar Jatujak merupakan pasar terbesar di Thailand dan selalu menjadi pilihan bagi wisatan untuk berbelanja, pasar Jatujak mirip dengan pasar Baru di Jakarta.







hari keempat merupakan hari terakhir., bye bangkok., saatnya kembali ke Jakarta untuk puasa :)



Wednesday, May 14, 2014

Jelajah Sumbawa - 1

Keindahan Indonesia sangat luar biasa, setelah menjelajahi pulau Lombok sekarang saatnya beralih ke pulau seberang Lombok namanya pulau Sumbawa :), untuk nyeberang ke pulau Sumbawa kita harus melalui pelabuhan Kayangan di Pulau Lombok menuju Pelabuhan Poto Tano di Pulau Sumbawa
Penyeberangan dari Lombok ke Sumbawa sekitar 1,5 - 2 Jam selama perjalanan kita tidak akan merasa bosan, karena kita akan takjub melihat betapa indahnya salah satu karya Tuhan.

Saat sampai di Sumbawa yang terlintas adalah padang Savana, di sekolah dulu selalu diterangkan bahwa padang savana dan sabana banyak ditemukan di provinsi NTB dan NTT. Sapi merupakan hewan yang paling sering saya temui selama perjalanan, di kiri kanan jalan oleh warga asli dibuat pagar tanaman yang berfungsi sebagai kandang sapi.

Perlu waktu 1,5 Jam untuk sampai ke Kota Sumbawa Besar dari Pelabuhan Poto Tano, Jika sudah sampai di Sumbawa Besar jangan lupa untuk mencicipi makanan khas Sumbawa salah satunya adalah Sepat dan Singang.



Penasaran dengan pulau Moyo, pulau Kenawa dan pulau Ular ?

Monday, January 7, 2013

Kegagalan Marketing Plan

Pernah kepikir ga pas bikin sales & promotion plan, gimana kalo programnya kelewat sukses? Yap! Consumer sampe screaming buat dateng ke event kita, saking banyaknya ampe target 1000 orang jebol hingga 5000 orang. Akibatnya mulai dari goody bag yang ga ada, kewalahan ngurusin mereka, tempat menjadi sesak, trus produk abis, hingga (mungkin) panggung jebol! Hasilnya? Komplain disana-sini! Wow.. disaster..

Hmm.. secara realita kejadian diatas sering sekali terjadi. Contoh lain bisa lihat kualitas sinyal GSM yang sekarang "bolot". Akibat dari apa? Hasil kesuksesan mereka dalam berpromosi. Mulai tarif sms gratis hingga nelpon gratis. Orang berbondong-bondong menggunakannya. Dan.. traffic overload, jaringan down. Hasilnya? Menuai komplain dimana-mana, mulai dari komplain langsung ke customer service hingga di media baik Koran maupun internet.

You know.. the brutal fact is Banyak Marketer yang melupakan kemungkinan ini saat membuat programnya. Terkadang mereka terlalu pesimis programnya bisa meledak begitu dan terkadang mereka memang juga sama sekali cuek. "yah kalo ampe traffic jebol, itu resiko namanya". Yang namanya kemungkinan, harusnya tidak Cuma dilihat dari yang terjelek namun juga dari sisi jika kelewat sukses. Kenapa? Karena jika kita bicara terjelek artinya hasil program jauh dibawah kapasitas program dan jika terlalu sukses berarti juga melebihi kapasitas. Dan melebihi kapasitas = tidak terlayani bukan?

Mari kita bahas.. 
Gagal?
Kenapa sih kok bisa dibilang gagal?
 
1. Quality Degradation
Penurunan kualitas dari tingkat sebelum promosi dan saat promosi dijalankan. Sebagai gambaran, Coba kita bahas contoh yang ada diatas. GSM A bikin promos sms dan telp gratis. Consumer banyak yang subscribe, trus mereka menggunakannya. Namun karena program ini kelewat berhasil maka yang terjadi adalah sms yang mereka kirim pending, pas nelpon call drop mulu atau malah tiap 21 menit 34 detik maka telp pasti otomatis putus. Dari sisi Marketer, maka program ini bisa dianggap sangat berhasil karena menaikkan jumlah active user hingga 500%. Namun dari sisi consumer, mereka tidak mendapatkan benefit yang seharusnya. Lah wong kualitasnya jadi turun kok. Malah mungkin ada yang nyeletuk, "mending ga usah ada promosi kali ya..." nah loh!

2. Product Availability Degradation
Kejadian ini sering terjadi pada fast moving consumer goods (FMCG). Dimana produk menjadi langka saat sebuah program berjalan dengan sukses. Kita bisa melihat pada contoh kejadian ini, Perusahaan rokok A launch New White Cigarette. SPG diajak jalan keliling seluruh kedai kopi dan meeting point untuk adult smoker. Nah pas produknya enak dan harga cocok, maka banyak terjadi switching saat itu alias promosi sukses. Kejadiannya adalah demand atas rokok tersebut meningkat drastis, bahkan pabrik overload. Hasilnya.. kekosongan produk terjadi dimana-mana, hingga saat competitor bikin black campaign, promotion team tidak sanggup membuat counter attack. Hasilnya itu produk sekarang udah di close ama pabriknya.. padahal iklannya saja sempet ngetop banget. Buat konsumen, ini seperti bermain-main dengan mereka. Lah wong sempat pindah rokok kok malah ga diurus. Mau beli aja susah gimana kita bisa disuruh loyal?. Sebenernya niat jualan ga sih mas?

3. Satisfaction Degradation
Ini adalah efek pucak bagi consumer dan merupakan multiplier efek dari kedua hal diatas. Ukuran berhasil atau tidaknya sebuah program selain ditentukan oleh parameter angka baik sales target ataupun profit, harusnya juga dilihat dari apa yang dirasakan oleh consumer sebagai objek dari kegiatan promosi tersebut. Kenapa? Sebagai objek dari kegiatan promosi, maka kepuasan sipelanggan adalah hal yang utama. Jika mereka tidak puas, maka angka-angka keberhasilan baik sales dan crowdnya menjadi sia-sia. Karena hanya menggambarkan pada satu sisi saja yaitu sisi jangka pendek, sedangkan kepuasan adalah sisi jangka panjang.

4. Trust Degradation
Bagaimana mau percaya.. wong consumernya sudah kecewa kok. Tulisan Iklannya bisa Nelpon Gratis Sepuasnya.. lah dibatasi oleh jaringan kok. Jadinya drop mulu hehehhe. Kepercayaan Consumer adalah hal yang utama bukan? Kepercayaan itu muncul dari apa yang dikatakan sama dengan apa yang dilakukan atau biasa disebut dengan Integrity. Buat apa bilang punya 58 juta pelanggan kalo semua nelpon jadi tulalit? Membangun kepercayaan itu mahal bro.. dan itu bukan kerja semalam..

5. Brand Image Degradation
Pada stage ini merupakan efek puncak bagi Brand atau Marketer, jika sudah tidak puas maka tidak percaya hasilnya Brand Image akan menurun. Ini sudah otomatis. Kalo pun masih pada pake, itu lebih karena tidak punya pilihan atau switching costnya lumayan tinggi. So mereka lebih pilih bertahan sambil sibuk mencari the better offering.

Pada dua contoh kasus diatas kita bisa lihat bahwa efek yang melekat secara jangka panjang adalah experience yang dirasakan oleh consumer. Sebagai objek mereka akan selalu mengingat apa yang pernah mereka rasakan. Nah perasaan mereka itulah yang menjadi believe filter mereka saat melihat dan menemui hal baru lagi. Keberhasilan yang menghasilkan bad experience bagi consumernya merupakan sebuah kegagalan jangka panjang. Brand anda bukan brand sekali pakai bukan?. Bahkan seorang pedagang kaki lima di pasar tradisional saja tidak sembarangan dengan consumernya. Mereka sangat menjaga citra baik dari kualitas produk maupun dari tingkat kepuasaan consumernya.

Memasukkan unsur Over Succeed dalam promotion plan seharusnya merupakan agenda wajib sebagaimana memasukkan unsur Failure. Mempertimbangkan resources, consumer response, emergency plan saat hal itu terjadi akan sangat membantu saat menghadapi situasi ini. Ingat, kami sebagai consumer menginginkan hal yang lebih baik dari yang sekarang ada. Bukan malah bikin repot seperti sekarang. Atau istilah kerennya "biar tekor asal nyohor" hehehehehe

Selagi masih punya waktu untuk mereview atau bikin perbaikan maka segera lakukan. Karena jika masih dalam tahap Quality atau Product Avalibility, itu masih bisa kita benerin dengan cepat tanpa harus kehilangan banyak. Namun jika sudah masuk ke Satisfaction atau Brand Image Degradation, itu sama dengan ulang dari awal lagi. Review and Fix it As Soon As Possible.. Learn bro!

So what do think?

Friday, December 21, 2012

Perbedaan Seorang Bos dengan Pemimpin

 Berikut ada perbedaan mendasar antara bos dan seorang pemimpin :

  • Seorang bos menuntut rasa HORMAT sedangkan pemimpin membangkitkan rasa hormat
  • Seorang bos mempekerjakan BAWAHANNYA sedangkan pemimpin mengilhami bawahannya
  • Seorang bos mengandalkan KEKUASANNYA sedangkan pemimpin mengandalkan kebaikannya
  • Seorang bos memibulkan rasa KETAKUTAN sedangkan pemimpin menimbulkan rasa hormat
  • Seorang bos menunjuk SIAPA yang salah sedangkan pemimpin memberikan petunjuk apa yang salah
  • Seorang bos tahu sesesuatu DIKERJAKAN sedangkan pemimpin tahu bagaimana mengerjakan sesuatu
Semoga kita semua dapat menjadi pemimpin yang baik yang dapat dihormati bukan ditakuti.

Saturday, December 1, 2012

Sejarah Ejaan Lama hingga menjadi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia dari jaman penjajahan hingga jaman kemerdekaan, Bangsa Indonesia telah mengalami beberapa perubahaan dalam menentukan bahasanya sendiri yaitu Bahasa Indonesia. Stadarisasi ejaan bahasa Indonesia dimulai pada tahun 1901.

Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan bahasa Indonesia yang pertama kali oleh Prof. Charles Adriaan van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim menyusun ejaan baru untuk mengganti ejaan bahasa Melayu pada tahun 1896. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku. Dalam kitab itu dimuat sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda yang suka mempelajari bahasa berbagai suku di Hindia Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf Latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:
  • huruf 'j' untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
  • huruf 'oe' untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.
Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.
Kebanyakan catatan tertulis bahasa Melayu pada masa itu menggunakan huruf Arab yang dikenal sebagai tulisan Jawi.
 
Ejaan ini akhirnya digantikan oleh Ejaan Republik pada 17 Maret 1947.

Ejaan Republik (edjaan republik) adalah ketentuan ejaan dalam Bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Ejaan ini kemudian juga disebut dengan nama edjaan Soewandi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu.
Ejaan ini mengganti ejaan sebelumnya, yaitu Ejaan Van Ophuijsen yang mulai berlaku sejak tahun 1901.
Perbedaan-perbedaan antara ejaan ini dengan ejaan Van Ophuijsen ialah:
  • huruf 'oe' menjadi 'u', seperti pada goeroe → guru.
  • bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan (') ditulis dengan 'k', seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
  • kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.
  • awalan 'di-' dan kata depan 'di' kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan 'di' pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan 'di-' pada dibeli, dimakan.
Ejaan Soewandi ini berlaku sampai tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada masa menteri Mashuri Saleh. Pada masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 23 Mei 1972 Mashuri mengesahkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia yang menggantikan Ejaan Soewandi. Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan mencopot nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari Djl. Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sistem ejaan bahasa Indonesia yang didasarkan pada Keputusan Presiden No. 57, tahun 1972 yang diresmikan pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Sistem ejaan ini, pada mulanya, disebarkan melalui buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Buku kecil ini merupakan buku patokan pemakaian sistem ejaan ini. Tetapi, di kemudian hari, karena buku penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Kemudian, pada Tahun 1987, kedua buku pedoman tersebut direvisi. Kemudian, edisi revisi dikuatkan dengan Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987. 

Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.

Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
  • 'tj' menjadi 'c' : tjutji → cuci
  • 'dj' menjadi 'j' : djarak → jarak
  • 'j' menjadi 'y' : sajang → sayang
  • 'nj' menjadi 'ny' : njamuk → nyamuk
  • 'sj' menjadi 'sy' : sjarat → syarat
  • 'ch' menjadi 'kh' : achir → akhir
  • 'oe' menjadi 'u' : oeang → uang
  • awalan 'di-' dan kata depan 'di' dibedakan penulisannya. Kata depan 'di' pada contoh "di rumah", "di sawah", penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara 'di-' pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Setelah kita mengetahui sejarah Ejaan Lama, kita juga bisa tahun kelahiran beberapa tokoh kemerdekaan.
Jika tokoh lahir setelah 1947 tetapi memang namanya menggunakan ejaan lama, maka juga ditulis sebagaimana adanya, tidak "dimodernkan". Demikian juga setelah 1972 orang masih menggunakan nama ejaan lama karena masih terbawa bahasa cara ejaan lama.
Ejaan tidak hanya berkaitan dengan cara mengeja suatu kata, tapi juga berkaitan dengan cara mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar, misalnya kata, kelompok kata atau kalimat. Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Ia merupakan ketentuan yang mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar berikut penggunaan tanda bacanya. 
 
Saat ini bahasa Indonesia menggunakan sistem Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagai sistem tatabahasa yang resmi. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan tidak hanya meliputi pemakaian huruf, pemakaian huruf kapital dan huruf miring, penulisan kata, penulisan unsur serapan dan pemakaian tanda baca saja, melainkan juga meliputi pedoman umum pembentukan istilah dan pedoman pemenggalan kata.
EYD sendiri mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring.

yang saya tulis diblog saya hanya sebatas ejaan kata saja.